workshop b2w:

Tips : Merubah V-brake Menjadi Discbrake

Secara sepintas tidak sulit untuk merubah dari rem dengan model v-brake menjadi discbrake. Akan tetapi, kita harus jeli dan mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan perubahan tersebut. Untuk mudahnya, sebelum merubah sistem rem dari v-brake menjadi discbrake harus memperhatikan beberapa hal di bawah ini:

  1. Apakah hub/freehub sepeda anda sudah kompatibel untuk sistem diskbrake? Apabila hub/freehub sepeda anda sudah siap untuk dipasangi discbrake (6 bolts/centerlock) maka pemasangan discbrake tidakmengakibatkan kesulitan yang berarti. Akan tetapi apabila hub/freehubnya paralax/tidak bisa dipasangi rotor, maka anda harus bersiap-siap untuk mengganti hub dan freehubnya. Penggantian hub/freehub ini juga harus memperhatikan jumlah hole/lubang rim/velg sepeda anda, sehingga jumlahnya akan sama (misal 36 h, 32 h). Anda juga harus memperhatikan rotor yang akan dipergunakan (centerlock atau 6 bolts).
  2. Apakah sudah disiapkan kabel rem yang baru? Dengan adanya perbuahan dari v-brake ke discbrake tentunya harus ada penggantian kabel rem nya (untuk discbrake mekanik). Hal ini dikarenakan panjang kabel rem nya akan bertambah. Sedangkan untuk discrake hidrolik biasanya hose nya sudah jadi satu dengan discbrake-nya.
  3. Apakah frame/fork-nya mendukung untuk dipasangi rem dengan sistem discbrake. Untuk beberapa jenis fork dan frame tertentu, tidak dapat menggunakan discbrake. Hal ini karena tidak memiliki dudukan discbrake, demikian juga untuk frame nya. Solusi yang memungkinkan adalah dengan mengganti fork dan memasangkan adapter discbrake (salah satu modelnya : A-Z adapter).
  4. Brake lever harus menyesuaikan apabila akan menggunakan discbrake hidrolik. Apabila brake lever menyatu dengan shifter, maka harus mengganti shifternya/brake lever-nya.

Demikian sedikit gambaran untuk penggantian dari v-brake menjadi discbrake.

June 25, 2008 | oleh pakdjo | Comments (1) Tags: , ,
workshop b2w:

Bagaimana setting Rebound pada shock?

Man treman seklian
mohon pencerahannya
Bagaimana setting Rebound pada shock yg baik dan cocok, dan misal dalam kondisi apa harus cepet dan dalam kondisi apa harus lambat.
thx
bigriderxc

Jawaban
Tidak ada cara lain untuk mencari setting rebound yang tepat selain dengan test ride

  1. Carilah beberapa bump berurutan (serial) - Apabila shock bisa bekerja baik pada bump pertama dan kedua, kemudian dirasakan kasar pada bump berikutnya. Artinya anda harus mengurangi (mempercepat) rebound.
  2. Carilah tikungan yang rata - Apabila traksi dirasakan kurang baik (seakan mudah terpeleset). Artinya anda harus mengurangi (mempercepat) rebound.
  3. Carilah bump dengan intensitas lebih nyata - Apabila shock terlalu cepat kembali (memanjang), sehingga anda merasa terhentak. Artinya anda harus menambah (memperlambat) rebound.
  4. Carilah tikungan yang tidak rata atau bumpy - Apabila traksi dirasakan kurang baik (terpeleset, tak mantap menjejak tanah). Artinya anda harus menambah (memperlambat) rebound.

Setting rebound berbeda antara seorang dengan orang yang lain, tergantung dari :

  1. riding style - pengendara agresif menghendaki rebound dikurangi (lebih cepat)
  2. berat badan pengendara - tubuh makin berat, maka rebound harus makin cepat (dikurangi).
  3. tergantung compression setting atau spring rate - anda menaikkan tekanan kompresi, maka rebound harus diperlambat (juga ditambah) dan sebaliknya
May 31, 2008 | oleh admin | Comments (0)
workshop b2w:

apakah diameter dari travel FORK mempengaruhi Kenyamanan/kekuatan Fork?

Teman, saya mau tanya,

apakah diameter dari travel FORK mempengaruhi Kenyamanan/kekuatan Fork? Mohon Pencerahan dari teman teman workshop

big_gone_wild

mungkin yang dimaksud dengan diameter dari travel fork menurut om adalah diameter stanchion forknya ya?
kalo memang iya, sebagian kecil dari jawaban tersebut akan saya sampaikan…

  1. diameter dari stanchion fork akan sangat mempengaruhi fork tersebut, performance maupun daya tahannya. Akan tetapi kalo secara spesifik ditujukan dengan pertanyaan apakah akan mempengaruhi kenyamanan dan kekuatan fork tersebut, maka jawabanya adalah : RELATIF
  2. Untuk menyatakan fork tersebut nyaman atau kuat sangat tergantung oleh banyak faktor yang mempengaruhinya, jadi kalo hanya diameternya nya saja, hal tersebut melum menyatakan jawaban yang bersifat menyeluruh. Perlu diketahui, bahwa fork dibuat dengan beberapa ukuran sesuai dengan penggunaannya. fork dengan travel 80, 100, 120 - 210 atau mungkin lebih banyak tersebid di pasaran, fork dengan steer tube standart, oversize, evo dan ukuran lainnya tersedia di pasaran sesuai dengan frame yang membutuhkan. Masing-masing perusahaan pembuat fork akan selalu mengklaim bahwa forknya yang paling nyaman dan paling sesuai dengan kebutuhan konsumen (sehingga setiap pabrikan senantiasa memiliki karakter tertentu terhadap fork buatannya), kemudian masih ditambah dengan peruntukan fork tersbut, seperti XC, AM, FR, DH, 4X dll
  3. Fork terbuat dari beberapa macam material dan teknologi yang sangat menetukan tingkat kenyamanan dan kekuatan fork tersebut. Ada fork yang terbuat dari alloy, magnesium, CroMo, Carbon dll. terknologi dari fork tersebut sangat menentukan pula tingkat kenyamanannya, dengan berbagai istilah yang terdapat di fork (masing-masing perusahaan punya istilah sendiri spt: SPV, ATA dll). Ada fork yang mengandalkan tekanan per, oli, angin atau perpaduan ketiganya untuk mendapatkan kenyamanan dan kekuatannya.
  4. Untuk mencapai tingkat kenyamanan yang maksimal, setiap fork membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan sepeda dan penggunanya. ada yang membutuhkan waktu sebentar untuk break in, ada yang langsung in dengan frame nya…

Jadi apabila kita hanya melihat dari diameter stanchionnya (32, 36, 40, dll), tanpa memperhatikan material, teknologi dan kegunaannya (lebih mudahnya merk fork tersebut), maka akan sangat sulit bagi kita untuk menentukan bahwa diameter stanchion tersebut berpengaruh terhadap kenyamanan fork tadi.

mohon maap kalo penjelasannya hanya sekilas, Grin
untuk itu saya tambahkan : http://www.spadout.com/wiki/index.php/Fork

May 30, 2008 | oleh pakdjo | Comments (3)
Newer Posts »